Narasimha Avatar
Tuhan muncul dari tiang istana untuk melindungi Prahlada Maharaja dari siksaan ayahnya, raja demon Hiranyakashipu, serta menumpasnya tanpa melanggar satupun anugerah berkah Dewa Brahma.
📜 Katha (Narasimha Avatar)
Teacher's Guide & Sacred ScripturesNamun kehendak takdir berkata lain. Hiranyakashipu memiliki seorang putra bernama Prahlada. Sejak berada di dalam kandungan ibunya dan mendengarkan wejangan suci Resi Narada, Prahlada telah menjadi pemuja murni Sri Krishna. Sang ayah berulang kali mengirim Prahlada ke sekolah asura agar melupakan Krishna, namun Prahlada justru mengajarkan cinta kasih kepada Tuhan kepada kawan-kawan sebayanya. Murka atas keteguhan putranya, Hiranyakashipu memutuskan untuk membunuh Prahlada dengan berbagai cara keji: melemparnya dari jurang karang terjal (namun ditangkap dengan lembut oleh tangan gaib Krishna), mengurungnya di kandang gajah-gajah gila (gajah-gajah itu justru bersujud dan mengangkat Prahlada ke punggungnya), memberinya racun mematikan (Prahlada mempersembahkannya terlebih dahulu kepada Krishna sehingga racun berubah menjadi air tawar), dan membakarnya dalam kobaran api unggun raksasa bersama bibinya Holika yang kebal api (namun api justru membakar Holika sementara Prahlada keluar tanpa sehelai benang pun terbakar).
Frustrasi dan diliputi amarah membabi buta, Hiranyakashipu memanggil Prahlada dan membentaknya: 'Dari mana kau peroleh kekuatan gaibmu itu?! Dimana tuhanmu berada?! Apakah Dia ada di dalam pilar batu istana ini?!'. Prahlada dengan tenang menjawab: 'Tuhanku ada di mana-mana, wahai Ayahanda, Beliau ada di dalam pilar ini pula.'. Dengan raungan amarah, sang tiran menghantam pilar batu marmer dengan tinjunya hingga terbelah dua. Seketika itu juga terdengar gelegar suara yang memekakkan telinga semesta, dan dari reruntuhan pilar melompat keluar wujud suci yang maha dahsyat: berbadan manusia namun berkepala singa dengan surai menyala keemasan, mata bagai bara api, dan kuku setajam kilat petir—Tuhan Narasimhadeva!
Narasimhadeva bertarung melawan Hiranyakashipu hingga senja tiba. Tepat di waktu senja (bukan siang bukan malam), di ambang pintu istana (bukan di dalam bukan di luar ruangan), Narasimhadeva menangkap sang asura, meletakkannya di atas pangkuan paha-Nya (bukan di darat, laut, maupun di udara), dan merobek dada sang tiran menggunakan kuku cakar-Nya yang tajam (bukan senjata buatan manusia). Dengan demikian, Tuhan melenyapkan kezaliman Hiranyakashipu tanpa melanggar satu pun syarat anugerah Dewa Brahma, serta memeluk devotee kecil-Nya, Prahlada, dengan penuh kasih sayang.
Pohon yang Selalu Berbuah di Tengah Badai: Hati Prahlada yang tak tergoyahkan melambangkan iman kokoh yang tidak pernah layu meski diterpa badai siksaan dan api kedengkian.
- ✓ Keberanian mempertahankan keimanan dan kebenaran walau menghadapi tekanan terberat.
- ✓ Tuhan Maha Ada di mana-mana dan selalu menjaga mereka yang tulus mengasihi-Nya.
- ✓ Keangkuhan dan kesombongan kekuasaan pasti akan menemui keruntuhannya.
Segala kejayaan bagi Keshava, Penguasa Alam Semesta, Yang mengambil wujud suci manusia-singa (Narahari), Di mana kuku-kuku jemari tangan teratai-Nya menjadi senjata ajaib yang meremukkan tubuh raksasa Hiranyakashipu semudah meremukkan seekor tawon kumbang.
Latihan
Selesaikan latihan pemahaman bacaan, tebak susun huruf, dan urutan kronologis peristiwa sesuai buku pedoman siswa.
Buka Lembar Kerja Siswa ➔