📜 Narasi Kisah Suci (Katha)
Suatu hari, Resi Narada melintas di hutan tersebut sambil memetik vinanya dengan damai. Ratnakara melompat menghadang dan mengancam hendak membunuh Narada. Narada tidak takut sedikit pun. Dengan penuh kasih, Narada bertanya, 'Wahai saudaraku, mengapa engkau melakukan dosa seberat ini?' Ratnakara menjawab, 'Untuk menghidupi keluargaku!'
Narada berkata, 'Pulanglah dan tanyakan kepada keluargamu: apakah mereka bersedia ikut menanggung dosa-dosamu di akhirat sebagaimana mereka menikmati hasil rampokanmu?'. Ratnakara mengikat Narada di pohon dan berlari pulang.
Betapa terkejutnya Ratnakara saat ayah, ibu, dan istrinya semua menjawab: 'Kami adalah keluargamu, kewajibanmulah memberi kami makan! Tetapi dosa atas perbuatan jahatmu adalah tanggunganmu sendiri, kami tidak mau ikut menanggungnya!'. Seketika itu mata Ratnakara terbuka lebar.
Ia berlari kembali ke hutan, melepaskan ikatan Narada, dan bersujud menangis memohon ampun di kaki sang resi. Narada yang penuh welas asih mengajarinya melantunkan nama suci Rama. Karena lidahnya begitu kotor oleh dosa, Ratnakara bahkan tidak bisa mengucapkan kata 'Rama', sehingga Narada menyuruhnya melafalkan 'Mara... Mara... Mara...' yang jika diulang-ulang dengan cepat menjadi 'Rama Rama Rama!'.
Ratnakara duduk bermeditasi melantunkan nama suci selama bertahun-tahun hingga sarang semut (Valmika) menutupi sekujur tubuhnya. Ketika ia keluar dari sarang semut tersebut, ia telah disucikan seutuhnya dan berganti nama menjadi Resi Valmiki—yang kelak menuliskan mahakarya epos Ramayana!