📜 Narasi Kisah Suci (Katha)
Ketika ayahnya menyuruh guru-guru sekolah demon mengajarkan politik kejam dan kekayaan duniawi, Prahlada kecil justru mengumpulkan teman-teman sekelasnya saat jam istirahat dan mengajarkan mantra suci serta 9 proses bhakti (*Nava-vidha Bhakti*: Mendengar, Melantunkan, Mengingat, Melayani kaki teratai, Menyembah arca, Berdoa, Menjadi pelayan, Bersahabat, dan Pasrah total).
Hiranyakashipu sangat murka. Ia melempar Prahlada ke jurang curam, menyuruh kawanan gajah liar menginjaknya, mengurungnya di ruangan penuh ular berbisa, memberinya racun mematikan, melemparnya ke dalam kuali minyak mendidih, dan mengurungnya di kobaran api raksasa bersama bibinya Holika. Namun setiap kali marabahaya datang, Krishna selalu hadir melindungi! Racun berubah menjadi nektar, ular menjadi kalung penyejuk, dan kobaran api mendingin bagai angin sepoi-sepoi.
Ketika Hiranyakashipu memukul pilar marmer istana dan berteriak menantang: 'Di manakah Tuhanmu berada?! Apakah Dia ada di dalam pilar ini?!', Prahlada menjawab tenang: 'Tuhanku ada di mana-mana, ayahanda, bahkan di dalam pilar ini.' Seketika pilar itu meledak dengan suara bagai petir mengguncang cakrawala, dan Lord Narasimhadeva (wujud separuh manusia, separuh singa ilahi) muncul menyelamatkan Prahlada dan mengalahkan Hiranyakashipu dengan kuku-kuku teratai-Nya!
Ketika para dewa gemetar ketakutan melihat kemarahan Narasimhadeva, Prahlada kecil melangkah maju bersujud dengan doa-doa penuh cinta kasih. Sri Narasimha seketika melunak, mendudukkan Prahlada di pangkuan-Nya, dan memberkati pembebasan abadi bagi dua puluh satu generasi leluhurnya!